Bismillahirrahmanirrahim
Suatu hari, seorang ibu dan anaknya menaiki bus yang aku tumpangi. Sebenarnya, aku tidak berharap mereka mengambil posisi duduk di sebelahku. Entah mengapa, aku merasa ’agak terganggu’ jika yang menjadi teman dudukku mereka berdua. Hatiku beralasan bahwa aku masih ingin menikmati sisa bacaan tadi pagi. Tapi bus ini milik umum, siapa saja bisa duduk dimana yang dia inginkan, asalkan membayar sesuai ketentuan. Tentunya bukan kesalahan mereka jika akhirnya mereka mengambil duduk tepat disebelahku. Anak laki-laki yang duduk disebelahku berusia kurang lebih 20 tahun, badannya sangat gemuk, rambutnya agak berantakan, kancing kemejanya tidak terkunci dengan sempurna. Dari awal ia duduk, aku menangkap ada keanehan dari tingkah lakunya. Mengapa anak sebesar itu masih diberi komando oleh ibunya untuk duduk dengan baik. Ibunya melihat posisi duduk anaknya mengangguku, karena agak menyenderkan badan besarnya ke bahuku.
Dengan agak malu, ibu tersebut merangkul anaknya agar bisa duduk dengan baik. Sepertinya perkembangan mental anak ini agak terlambat. Aku mencoba menerka dan sedikit waspada jika tiba-tiba nanti dia bertindak aneh kepadaku. Dalam bus umum, berbagai kemungkinan buruk sangat mungkin terjadi, "begitu hatiku berbisik." Di separuh perjalanan, anak laki - laki itu tiba-tiba kejang, dan mengeluarkan suara seperti mengerang. Matanya terbelalak !! Hi.........mulutnya penuh dengan (maaf) muntah.
Si ibu terlihat panik, punggung anaknya dipukul perlahan agar bisa mengeluarkan sisa muntahannya. Sementara kakiku terpaksa mendekat ke dinding bus, untuk menghindari tetesannya. Sang ibu tampak sekuat tenaga memegang badan anaknya yang mulai menyender sepenuh badan ke arahku. Namun aku berusaha sekuat tenaga memberinya senyum, berusaha menyampaikan pesan bahwa aku tidak merasa terganggu dan aku mengerti dengan kondisinya.
Melalui belaian tangan yang menyiratkan sayang, dia masih merangkul anaknya, tangan kanannya masuk ke mulut anaknya, dan mengeluarkan (maaf) muntah melalui tangannya. Tidak ada rasa jijik sama sekali. Yang ada, mungkin hanya rasa canggung, karena ini terjadi di depan umum, ditengah orang - orang yang tidak tahu persis dengan kondisi dan kesulitan mereka. Melihat kasih sayang ibu tersebut, pemandangan itu menjadi tidak menjijikan lagi, dan aku sudah tidak mengambil jarak lagi. Kemudian aku berikan sebungkus tissue yang masih utuh. Sang ibu dengan gembira menerimanya. Seusai menyeka mulut buah hatinya, diusapnya kening sang anak yang mulai terlihat lunglai. Beliau masih memeluk dengan erat, tanpa perduli seberapa berat badan anaknya, dan seberapa besar "perhatian" penumpang lain kepada mereka.
Mereka berdua, sungguh memiliki cinta yang sulit kita mengerti. Mereka mempunyai rasa sayang yang tak berbatas. Sama seperti ibu kita. Ya....., sama seperti ibu kita, sebagai pendamping sejati kita. Dalam kesulitan apa pun dan terhalang jarak begitu jauh, ibu masih mendampingi kita dengan untaian doa penuh makna dan sepenuh harap.
Satu pelajaran semoga bisa ditarik dari kejadian ini. Jika kita bisa memperhatikan orang lain dengan persfektif berbeda, melalui empati yang bisa kita tanam setiap hari di setiap kejadian, maka Insya Allah kita akan mendapat tambahan kekayaaan batin atau vitamin hati.
Ibu tadi tengah berada dalam kesulitan membawa anaknya dalam kendaraan umum, namun kasih sayang ibu tidak bisa kita ukur dalam satuan manapun. Beliau memberikan kasih sayang secara tuntas dalam kondisi apapun. Satu hal lagi, bahwa berbuat baik bisa dimulai dari hal yang kecil Penerimaan kita terhadap kondisi mereka ternyata dapat pula memberikan rasa nyaman kepada mereka. Apa jadinya jika kita bermuka masam menghadapi kejadian tersebut ? Mungkin si ibu malah akan bertambah gugup dan semakin panik dan membuat sang ibu tidak leluasa memberikan pertolongannya.
Semoga, mereka diberi kemudahan oleh Allah dalam menjalankan aktifitasnya.
Source : http://www.cybermq.com
semoga baik2 ja dalam lindungan ALLOH SWT .
AMINNN